Arus Modal ke Negara Maju Melebihi Satu Triliun Dolar

Penelitian yang dilakukan oleh Institute of International Finance (IIF) menunjukkan bahwa negara maju akan menarik investasi modal melebihi US $ 1 triliun atau Rp13.463,6 triliun pada tahun 2017. Menurut Direktur Eksekutif IIF Hung Tran, atmosfir positif pertama dimulai pada tahun 2014 selama perbaikan ekonomi negara berkembang.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada hari Selasa di Washington, IIF menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang jauh melampaui pertumbuhan di negara maju. Hung Tran memandang bahwa percepatan pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang menjadi satu-satunya faktor yang menarik investor.

Berdasarkan catatan IIF, arus modal non-residen menuju negara-negara berkembang mencapai US $ 1,1 triliun sepanjang tahun ini, yang akan meningkat menjadi US $ 1,2 triliun pada 2018. Tran berpendapat bahwa aspek yang dapat meningkatkan investasi pada tahun 2018 adalah portofolio hutang, ekuitas, dan Kondisi perbankan yang jauh melebihi ekspektasi.

IIF merevisi analisis perkiraan arus investasinya menjadi US $ 970 miliar pada bulan Juni, yang mencapai US $ 290 miliar lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya pada bulan Februari ketika Donald Trump pertama kali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Pada saat itu, investor khawatir bahwa ekonomi proteksionis Trump akan menyebabkan pelemahan ekonomi negara maju.

Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi global akan meningkat dari 3,5 persen menjadi 3,6 persen sepanjang 2017-2018. Meskipun, seperti yang ditunjukkan oleh World Economic Outlook, IMF telah mengurangi perkiraan pertumbuhan ekonomi di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris.