Bank Indonesia mempertahankan 7DRR di 4,25 persen

Bank Indonesia (BI) telah memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7 hari reverse repo (7DRR) sebesar 4,25 persen. Tingkat suku bunga simpanan juga tidak berubah sebesar 3,50 persen dan fasilitas pinjaman tidak berubah sebesar 5,00 persen.

“Keputusan tersebut sejalan dengan bank sentral dan tujuan pemerintah untuk menjaga stabilitas sistem makroekonomi dan keuangan domestik, sambil memperhitungkan dinamika ekonomi global dan domestik,” kepala BI dari Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Dody Budi Waluyo mengatakan kemarin, 13 Desember.

Alasan lain untuk mempertahankan tingkat suku bunga 7DRR pada level saat ini adalah perkiraan bahwa rencana kenaikan suku bunga Fed Rate tidak memiliki risiko terhadap pemulihan ekonomi Indonesia.

Baca: Bank Indonesia Memotong Biaya Transaksi Antar Bank

Pada hari Rabu, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen menjadi 1,25-1,50 persen. The Fed juga memproyeksikan tiga kenaikan lebih lanjut pada 2018 dan 2019, sebelum tingkat jangka panjang sebesar 2,8 persen tercapai.

Bank Indonesia telah mengatakan bahwa kenaikan suku bunga Fed Rate tidak akan membahayakan stabilitas pasar domestik. “Kami yakin stabilitas akan tetap terjaga dalam periode akhir ini,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo.

Analis MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan iklim investasi Indonesia tetap prospektif meski terjadi kenaikan suku bunga Fed Rate, yang menurutnya pasar telah diantisipasi sebelumnya.

“Tahun depan mereka akan menaikkannya dua kali lagi, bisa saya katakan itu tidak akan mempengaruhi pasar di Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Direktur Bursa Efek Indonesia Samsul Hidayat mengatakan kenaikan suku bunga Fed Rate akan mempengaruhi aktivitas investasi global, karena biaya modal akan meningkat sehingga mengurangi aktivitas operasional dan investasi.