Bank Indonesia memprediksi pertumbuhan 5,1 persen

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowarojo memperkirakan pertumbuhan 5,1% pada kuartal II 2017. Jika tercapai, katanya, kuartal II dan III bisa melihat pertumbuhan 5,2 persen. “Kuartal pertama juga tumbuh lebih tinggi dibanding sebelumnya,” katanya seusai rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Pada kuartal I, Agus mengatakan, pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,01 persen, meningkat dari kuartal IV tahun 2016 sebesar 4,94 persen berkat kinerja ekspor dan belanja pemerintah yang lebih baik. Menurut dia, ekspor yang lebih baik disebabkan oleh kenaikan harga komoditas, seperti batu bara dan karet. “Juga ditambah dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi global.” Dia menambahkan bahwa kenaikan belanja barang pemerintah dan belanja modal dapat meningkatkan investasi yang akan terjadi karena infrastruktur menjadi lebih baik.

Deputi Gubernur Bank Sentral Perry Warjiyo mengatakan bahwa selain ekspor, konsumsi rumah tangga tetap cukup kuat untuk mendukung pertumbuhan. Konsumsi rumah tangga mencapai 4,49 persen pada kuartal pertama dan diperkirakan akan mencapai 5 persen pada kuartal berikutnya. Sedangkan untuk investasi, Perry mengatakan investasi di gedung itu cukup kuat. Ia juga memprediksi investasi non-bangunan akan membaik sejalan dengan kinerja ekspor yang lebih baik.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia kemarin memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 4,75 persen. Dengan demikian, suku bunga acuan tidak berubah sejak Oktober tahun lalu. Agus mengatakan bahwa suku bunga acuan tetap terjaga karena potensi inflasi yang tinggi dan tekanan eksternal menjelang kenaikan suku bunga Fed. “Kami waspada bahwa Fed Fund Rate akan meningkat tiga kali tahun ini,” katanya.

Pada faktor domestik, pertemuan tersebut memperkirakan inflasi karena kenaikan harga administered seperti harga listrik. Oleh karena itu, Agus mengatakan, Bank Indonesia (BI) akan terus meningkatkan kombinasi kebijakan moneter, macroprudential dan sistem pembayaran dalam upaya menjaga stabilitas sistem makroekonomi dan keuangan. “BI juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah,” katanya.

Agus menambahkan rupiah telah menguat sepanjang kuartal pertama hingga April, inklusif. Pada kuartal I, rupiah menguat 1,1 basis poin menjadi 13.326 per dolar AS. Menurut dia, rupiah relatif stabil karena arus masuk modal yang terus berlanjut, sejalan dengan prospek sovereign sovereign yang lebih baik, data makroekonomi positif dan sentimen positif terhadap prospek ekonomi Indonesia. “Inflasi tetap terkendali dan pada kisaran 4 + / – persentase poin.”