Indonesia Bertujuan untuk Pertumbuhan Ekonomi 5,6 persen pada 2018

Indonesia menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,6 persen pada 2018. Pemerintah akan mengubah fokusnya ke enam sektor untuk mencapai target tersebut. “Ada enam sektor, yaitu industri pengolahan, terutama non migas, pertanian, perdagangan, informasi dan komunikasi, konstruksi, dan jasa keuangan,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Soemantri Brodjonegoro kemarin.

Bambang mengatakan bahwa tiga sektor prioritas akan memainkan peran utama dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja. “Ketiga sektor tersebut adalah industri pengolahan, pertanian dan pariwisata. Konsumsi dan investasi harus terus mendorong ekonomi, “katanya.

Pemerintah pusat dan daerah akan berinvestasi di sektor-sektor terpilih. Bambang mengatakan bahwa lebih banyak perhatian diberikan pada proyek yang dapat meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kegiatan sektor swasta, yaitu infrastruktur, transportasi dan logistik.

Pemerintah akan memprioritaskan daerah dengan kemampuan untuk memanfaatkan daerah lain, seperti kawasan industri, zona ekonomi khusus (SEZ) dan kawasan pariwisata. “Namun, kapasitas fiskal yang terbatas berarti pemerintah tidak dapat diandalkan hanya untuk melakukan investasi,” kata Bambang.

Karena itu, kata Bambang, pemerintah meluncurkan pembiayaan investasi APBN, disamping skema kerja sama antara pemerintah dan badan usaha milik negara. “Perlu didukung oleh semua orang untuk mempercepat proyek infrastruktur.”

Pemerintah akan mengeluarkan kebijakan untuk meningkatkan ekonomi dengan mengurangi hambatan terhadap pengembangan perusahaan swasta di enam sektor utama, memperbaiki iklim investasi di berbagai daerah, memanfaatkan dan mendistribusikan dana yang dipulangkan untuk investasi, melestarikan daya beli masyarakat dan melakukan reformasi struktural.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia menghadapi ketimpangan ekonomi yang signifikan. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mengatasinya melalui redistribusi aset dan kebijakan kemitraan. “Kami ingin menekan rasio Gini,” katanya. Rasio Gini adalah pengukuran ketidaksetaraan dalam distribusi kekayaan. Rasio Gini Indonesia pada 2016 adalah 0,397.

Menurut Jokowi, pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih baik dibanding negara lain. Tahun lalu, ekonomi tumbuh sebesar 5,02 persen, prestasi terbaik ketiga di dunia setelah India dan China.