Indonesia mengancam untuk membatalkan kontrak Masela

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengancam akan membatalkan kontrak bagi hasil (production sharing sharing / PSC) di blok Masela yang kaya gas jika kontraktor tersebut tidak mendapatkan bola menggelinding di lapangan.

Pemerintah telah meminta Inpex dan Shell Belanda yang berbasis di Jepang, yang masing-masing memegang 65 dan 35 persen saham di blok tersebut, untuk melakukan rancangan teknik pendahuluan awal (pre-FEED) untuk menentukan kapasitas produksi onshore liquefied Gas alam (LNG) dan pembeli gas perpipaan.

“Jika Inpex memakan waktu terlalu lama untuk melakukan pra-FEED maka saya akan membatalkan kontrak. Kesabaran saya sudah mulai tipis,” katanya di sela-sela forum gas nasional di Jakarta Pusat, Rabu.

“Saya telah [menteri energi dan sumber daya mineral] selama enam bulan dan mereka belum memulai.”

Pemerintah telah memberi perusahaan dua opsi pada kapasitas pabrik LNG: 7,5 mtpa dengan standar 474 juta kaki kubik gas per hari (mmscfd) atau 9,5 mtpa dan 160 mmscfd. Gas pipa akan dijual ke perusahaan petrokimia lokal.

Blok Masela yang kaya gas diperkirakan mampu menghasilkan 1.200 mmscfd dan 24.000 barel kondensat per hari selama 24 tahun.

Sementara pemerintah optimis bahwa blok tersebut dapat mulai beroperasi pada tahun 2023, rencana pembangunan sebelumnya (POD) memperkirakan bahwa lapangan gas dapat mulai berproduksi pada tahun 2024, dan mulai melakukan perpipaan gas pada tahun 2026, hanya dua tahun sebelum kontrak Inpex dan Shell berakhir.