Indonesia, Swedia Mengembangkan Sistem Navigasi Udara Digital

Navigasi Udara Indonesia DG bekerja sama dengan Swedish Aviation Authority untuk mengembangkan sistem navigasi penerbangan digital.

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Yudhi Sari Sitompul mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis Kamis, 9 November, bahwa navigasi udara di Indonesia perlu didigitasi berdasarkan pergerakan yang meningkat atau lalu lintas udara dengan distribusi yang beragam.

Salah satu indikatornya adalah masuknya Bandara Soekarno-Hatta sebagai salah satu dari 20 bandara tersibuk di dunia oleh Airport Council International (ACI), untuk periode 2010 sampai 2015.

“Kami menyambut baik kerjasama dengan Pemerintah Swedia karena kami memiliki lebih dari 250 bandara kecil dan besar dengan sistem navigasi penerbangan yang memerlukan dukungan teknologi,” katanya, menambahkan bahwa sistem tersebut akan mendukung keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan penerbangan dan efisiensi bandara. operasi di indonesia

Menurut Yudhi, biaya operasional navigasi penerbangan mencapai 30-40 persen biaya operasional bandara. Jika sistem operasional navigasi penerbangan dilengkapi dengan teknologi digital modern, biayanya akan turun dan operasi bandara akan lebih efisien.

“Swedia telah mengembangkan teknologi ATS remote tower yang telah diujicobakan di beberapa bandara. Mereka memiliki pengalaman dalam mengimplementasikan menara terpencil ini, yang dapat kita pelajari dari dan berbagi pengalaman dengan,” katanya.

Selain Swedia, negara lain yang telah menguji teknologi menara terpencil ini sukses adalah Australia, Amerika Serikat, Belanda, Norwegia, dan Irlandia.

Yudhi berharap agar workshop DG dan AirNav Indonesia dapat mengembangkan konsep ke depan dan mengetahui seberapa banyak keuntungan dan kerugian penerapan model menara ATC di Indonesia.