Industri tekstil Indonesia menghadapi persaingan dari Ethiopia

Upaya pemerintah untuk menarik produsen tekstil dari China ke nusantara menghadapi ancaman yang meningkat dari negara Afrika Timur, Ethiopia, yang menawarkan struktur biaya yang kompetitif kepada perusahaan.

Berdasarkan kesepakatan dengan Amerika Serikat, yaitu African Growth and Opportunity Act (AGOA), ekspor Ethiopia tidak dibatasi oleh bea dan kuota, kata Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat di Jakarta, Rabu.

Negara ini juga memiliki tenaga kerja murah dan listrik murah, serendah 4 sen dolar AS per kilowatt hour, tambahnya.

“Produsen tekstil China memindahkan produksinya ke luar negeri karena kenaikan biaya tenaga kerja dan polusi udara Kami ingin menarik mereka ke sini, namun beberapa sudah pindah ke Ethiopia,” kata Ade dalam sebuah diskusi di industri tekstil.

Menurut data dari Komisi Investasi Etiopia, 124 investor asing telah menyatakan ketertarikannya pada sektor tekstil Ethiopia, 71 di antaranya berasal dari China.

Sementara menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi di industri tekstil Indonesia pada 2016 turun 7,3% menjadi Rp 7,55 triliun dibandingkan dengan 8,14 triliun pada 2015.

Investor asing hanya menyumbang 42,5 persen pada 2016, terendah dalam enam tahun.

“Beberapa anggota kami sebenarnya sudah diinvestasikan di Ethiopia,” kata Ade.