Investasi di luar Jawa mencapai Rp75,3 triliun

Investasi di luar Jawa terus meningkat pada kuartal pertama tahun ini mencapai Rp75,3 triliun dan berkontribusi 45,4% dari total investasi. “Angka tersebut lebih tinggi dibanding tahun lalu yang hanya 44,9 persen,” kata Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong kemarin.

Sementara itu, Investasi di Jawa mencapai Rp90,5 triliun atau 54,6 persen. BKPM juga menerbitkan daftar lima besar wilayah dengan realisasi investasi yang terdiri dari Jawa Barat (Rp29,3 triliun atau 17,7 persen), Jakarta (Rp24,2 triliun atau 14,6 persen), Jawa Timur (Rp.12,6 triliun atau 7,6 persen), Banten ( Rp12,4 triliun atau 7,4 persen) dan Jawa Tengah (Rp11,9 triliun atau 7,2 persen).

Secara sektoral, BKPM mengatakan bahwa investasi asing langsung dan investasi dalam negeri naik ke pertambangan (Rp23,6 triliun atau 14,2 persen), industri makanan dan minuman (Rp18,5 triliun atau 11,1 persen), transportasi, pergudangan dan telekomunikasi (Rp18,4 triliun Atau 11,1 persen), listrik, gas dan air (Rp16,7 triliun atau 10,1 persen), dan logam dasar, barang logam, mesin dan peralatan elektronik (Rp15,2 triliun atau 9,2 persen).

BKPM melaporkan daftar investasi asing yang tidak berubah menurut negara. Lima besar terdiri dari Singapura (US $ 2,1 miliar), Jepang (US $ 1,4 miliar), China (US $ 0,6 miliar), Amerika Serikat (US $ 0,6 miliar) dan Korea Selatan (US $ 0,4 miliar).

Dengan demikian, Lembong memproyeksikan investasi China akan meningkat secara signifikan. “China telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia dan terbesar di Asia,” katanya.

Lembong menambahkan bahwa investasi AS adalah kunci, dengan mengutip teknologi canggih, merek dan jaringan ekspor. Dia mengatakan bahwa perselisihan Freeport tidak mencerminkan kondisi investasi umum di Indonesia. “Investor melihatnya sebagai kasus khusus,” katanya.