Kemiskinan di Indonesia hanya berkurang 5,3 persen dalam 9 tahun terakhir

Enny Sri Hartati, direktur eksekutif Institut Pengembangan Ekonomi dan Keuangan, mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen tahun lalu belum dapat secara substansial mengurangi kemiskinan di Indonesia.

Menurutnya, jumlah orang yang hidup di bawah garis kemiskinan turun hanya 5,85 persen selama sembilan tahun terakhir. “Rata-rata pertumbuhan ekonomi pada periode 2014-2015 adalah 5,85 persen. Tapi kemampuannya untuk mengurangi kemiskinan sangat kecil, “kata Enny saat diskusi yang digelar Tempo , Kamis, 4 Mei 2017.

Enny menjelaskan, meski pertumbuhan ekonomi meningkatkan gaji pekerja, daya beli masyarakat tetap lemah dan tingkat pengangguran terbuka telah mencapai 14 persen.

Dia melihat bahwa kesenjangan ekonomi yang meluas di Indonesia disebabkan oleh pengeluaran pemerintah yang tidak efektif. Misalnya, Enny mencontohkan, distribusi dana desa yang tidak adil dan transfer ke daerah menyebabkan kesenjangan dalam hal akses masyarakat dan aset. Dana tersebut biasanya tetap diparkir di rekening bank pemerintah daerah dan dibelanjakan pada akhir tahun.

“Belanja daerah hampir tidak diawasi. Semuanya hanya formalitas, “Enny menambahkan. Kepala ekonom Bank Dunia Vivi Alatas berpendapat bahwa kesenjangan tersebut dapat diatasi dengan memberikan kesetaraan pendidikan.

“Berdasarkan sebuah studi yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), jika Indonesia dapat mengatasi kesenjangan kualitas pendidikan, dampaknya akan sepuluh kali lebih baik daripada jika uang digunakan untuk mengatasi kesenjangan akses,” Vivi menjelaskan.

Selain itu, pemerintah berjanji akan memberikan keadilan ekonomi dengan pengelolaan fiskal yang efektif. Vivi mengatakan, kreasi pekerjaan harus diikuti dengan revisi undang-undang ketenagakerjaan.