Menteri Jonan meresmikan Jaringan Gas di Surabaya

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan meresmikan jaringan gas yang menghubungkan 24.000 konsumen rumah tangga di Jawa Timur.

“Konsumen rumah tangga yang menggunakan koneksi jaringan gas bisa menghemat Rp20.000 per bulan,” kata Menteri Jonan saat meresmikan jaringan gas untuk konsumen rumah tangga di flat Penjaringan Sari, Rungkut, Ahad.

Jaringan gas dibangun dengan biaya Rp221,9 miliar diambil dari APBN.

Jonan mengatakan jaringan gas yang menghubungkan puluhan ribu konsumen rumah tangga dibangun berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Presiden telah meminta pengembangan gas berdasarkan pemerataan bagi warga ekonomi yang lemah.

“Sesuai dengan kebijakan pemerintah, pengembangan gas terutama dirancang untuk listrik dan konsumen rumah tangga sederhana,” kata menteri tersebut.

Pemerintah juga mempercepat program konversi gas alam cair LPG- (LNG-nya).

Setiap tahun, kata dia, pemerintah mengalokasikan dana dari APBN untuk perluasan jaringan gas di berbagai daerah.

Perkembangan jaringan gas ini dirancang untuk masyarakat kelas menengah dan bawah sehingga bisa menikmati gas bersih dan aman dengan harga yang relatif rendah.

“Anggaran negara harus digunakan untuk sesuatu yang dibutuhkan oleh masyarakat kelas terendah,” kata Jonan.

Kebutuhan gas sebesar 0,6 juta metrik standar kaki kubik per hari (MMSCFD) di Surabaya dipasok oleh PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore.

Menurut menteri, panjang jaringan pipa yang menghubungkan 24.000 rumah tangga di Surabaya mencapai 196 kilometer.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengapresiasi upaya menteri dan distributor gas milik negara PGN untuk membangun koneksi jaringan gas untuk 24.000 konsumen rumah tangga.

“Program gas ini sangat membantu warga karena mereka bisa menghemat pengeluaran mereka. Praktis dan siap kapanpun dengan persediaan bersih dan aman,” katanya.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi I Gusti Nyoman Wiratmaja Puja menambahkan bahwa pemerintah telah membangun koneksi gas untuk 186 ribu konsumen rumah tangga di 14 provinsi pada periode 2009-2016.

Pembangunan tersebut dilakukan melalui penugasan dua BUMN PT PGN dan PT Pertamina.

Pada 2016, pemerintah membangun 89 ribu sambungan untuk rumah tangga di enam kota, dimana 24.000 berada di Surabaya.

Dia mengatakan bahwa selain efisiensi bagi konsumen, pengembangan koneksi gas untuk rumah tangga juga mengurangi impor LPG negara sebesar 20.000 ton per tahun. Jaringan di Surabaya sendiri mengurangi impor sebesar 2.600 ton per tahun.

“Pemerintah bisa menghemat sampai Rp131 miliar per tahun,” kata direktur jenderal tersebut. Pada 2017, pemerintah akan membangun jaringan gas untuk 59.000 sambungan di 16 wilayah. “Satu sambungan membutuhkan investasi Rp10 juta,” tambahnya.