Menteri merenungkan menuntut agar maskapai mengambil kembali aturan bagasi baru

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pada hari Rabu bahwa kementerian sedang mempertimbangkan untuk “membatalkan” kebijakan bagasi yang lebih ketat yang diperkenalkan baru-baru ini oleh beberapa operator berbiaya rendah untuk penumpang.

Sejak 22 Januari, Lion Air dan anak perusahaannya Wings Air tidak lagi memasukkan jatah bagasi masing-masing 20 kilogram atau 10 kg per penumpang, dengan setiap tiket dibeli. Setiap penumpang kini diperbolehkan membawa satu bagasi kabin dengan berat maksimum 7 kg dan dengan dimensi tidak melebihi 40 x 30 x 20 sentimeter.

Bagasi terdaftar dikenakan biaya tambahan.

Citilink, anak perusahaan pembawa bendera Garuda Indonesia, telah mengumumkan rencana untuk memperkenalkan kebijakan serupa bulan depan.

“Kami akan memastikan bahwa beban [finansial] untuk [penumpang] lebih ringan. Ada beberapa cara, mulai dari membatalkan kebijakan hingga memberikan diskon, ”kata Budi di Jakarta, Rabu, seperti dikutip oleh kompas.com .

Dia mengatakan kementerian telah mendengarkan keluhan dari pelanggan maskapai yang mengklaim mereka ditagih berlebihan oleh maskapai.

“Intinya adalah segala sesuatu didasarkan pada hukum. Kami akan menderegulasi hukum jika orang-orang tiba-tiba terbebani, ”katanya, seraya menambahkan bahwa ia akan bertemu dengan para pemangku kepentingan untuk membahas masalah ini dan akan membuat keputusan dalam tiga atau empat hari.

Komisi V DPR, yang mengawasi transportasi, telah meminta pemerintah untuk menunda implementasi kebijakan maskapai untuk membebankan biaya bagasi.

Wakil ketua Komisi V Sigit Susiantomo mengatakan pemerintah perlu mempelajari masalah ini untuk mempertimbangkan keterjangkauan harga tiket pesawat dan keberlanjutan operasi bisnis penerbangan. (bbn)