Nusa Tenggara Barat Segera Melakukan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral secara resmi memperkenalkan pembangkit listrik mikrohidro di desa Kawindai Toi, Nusa Tenggara Barat. Pembangkit listrik tersebut mampu menghasilkan 100 kilowatt, cukup untuk memasok listrik untuk 150 rumah tangga.

“Ini adalah pembangkit listrik yang ramah lingkungan karena menggunakan sungai,” kata Direktorat Jenderal konservasi energi dan energi terbarukan, Rida Mulyana.

Rida mengatakan konstruksi pembangkit listrik tersebut hanya menghabiskan dana sebesar Rp6,4 miliar dari anggaran negara dan tidak membutuhkan infrastruktur yang besar.

“Sistemnya sangat sederhana dan kokoh, yang membuatnya bisa diandalkan,” katanya.

Berdasarkan rencana bisnis power supply 2017-2026, output listrik dari mikrohidro harus mencapai 68 megawatt (MW) pada tahun ini. Kapasitas pembangkit listrik akan meningkat menjadi 168 MW pada 2019. Ini akan setara dengan 16 persen dari 1.286 MW energi bersih di tahun yang sama.

Asosiasi Pengembang PLTU mencatat potensi pembangkit listrik tenaga air skala besar dan kecil bisa mencapai 75.000 MW. Sampai saat ini pemakaiannya baru mencapai 6 persen atau 3.900 MW.

Ketua asosiasi Riza Husni meramalkan bahwa pembangkit listrik swasta akan tumbuh stagnan sebagai penyebab langsung kebijakan yang dikeluarkan oleh Menteri Energi Ignasius Jonan pada perdagangan listrik.

Riza mendesak Menteri Jonan untuk membatalkan peraturan tersebut, karena dia mengatakan pihaknya mendukung perusahaan listrik negara PLN.