Proyek Energi Bersih Terhambat oleh Pendanaan

Deputi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar menyesalkan tingginya suku bunga yang dikenakan bank lokal untuk pendanaan energi terbarukan baru. Bank lokal mengenakan suku bunga rata-rata antara 10 dan 11 persen.

Tingkat tinggi, katanya, menghambat tujuan pemerintah untuk mengembangkan energi baru. Dengan tingkat pengembalian investasi sekitar 14 persen, pelaku usaha kurang cenderung mengerjakan sesuatu dengan keuntungan hanya tiga persen.

Arcandra mengatakan bahwa Indonesia perlu memiliki tingkat suku bunga rata-rata hanya empat sampai lima persen untuk membantu mencapai tujuan mencapai perpaduan energi bersih sebesar 23 persen pada tahun 2025. Sampai saat ini, kontribusi energi bersih adalah 11,9 persen.

Ketua Asosiasi Pengembang Tenaga Air Riza Husni tidak setuju dengan wakil menteri tersebut. Dia mengatakan bahwa masalah yang menghambat pengembangan energi bersih bukanlah tingginya suku bunga bank-namun harga jual listrik yang terlalu murah.

Peraturan di Indonesia membatasi harga jual listrik berdasarkan biaya produksi.

Kebijakan ini, kata Riza, telah menurunkan peringkat Indonesia dalam Indeks Daya Tarik Energi Terbarukan (REAI) oleh Ernst and Young menjadi di bawah 40. Pada tahun 2015, Indonesia berada pada posisi ke-38.

“Menekan harga energi bersih akan mengurangi daya tarik investasi dan membuat Indonesia bergantung pada energi fosil,” bantahnya.