Uber ‘tidak membuat keuntungan’ di Indonesia

Uber belum mendapatkan keuntungan apapun dari transaksi yang dilakukan oleh pelanggan Indonesia, menurut Karun Arya, seorang juru bicara untuk naik-pemesanan perusahaan.

Semua pendapatan yang diambil dari pengguna saat pergi ke driver atau pemilik mobil rental bermitra dengan Uber, kata Karun.

“Kami belum membuat keuntungan. Kami tidak mengambil cut – semua uang masuk ke driver. Di masa depan, meskipun, akan ada alokasi bagi kita, misalnya 80 persen untuk driver dan 20 persen untuk kami, “kata Karun Jumat seperti dikutip kompas.com.

Uber saat ini berjalan layanan di Jabodetabek, Bandung dan Bali.

Keputusan untuk tidak menjalankan keuntungan, Karun mengatakan, telah mengingat kurangnya di Indonesia peraturan yang jelas berkaitan dengan bisnis mobile aplikasi.

Pada saat yang sama, ia menambahkan, konsumen Indonesia, khususnya di Jakarta, telah menunjukkan minat yang signifikan dalam transaksi non tunai, fitur penting untuk Uber, yang, katanya, sangat ingin menarik orang-orang yang mencintai sensasi pengalaman baru.

“Orang-orang Indonesia yang unik; masih banyak yang melakukan transaksi tunai dan membawa uang. Dengan Uber, kami menerapkan kebijakan transaksi non-tunai menggunakan kartu kredit sehingga pelanggan tidak perlu membawa uang di mana-mana dan tidak perlu khawatir diminta untuk lebih banyak uang dari driver kami, “kata Karun.

Dia menambahkan bahwa perusahaan telah mengajukan izin ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk mendirikan perusahaan investasi asing.

“Mudah-mudahan kita dapat membangun perusahaan PMA pada akhir tahun ini atau awal 2016,” kata Karun.